MENU BAR

Jumat, 11 November 2016

TUMBUHAN PEMAKAN SERANGGA KANTUNG SEMAR

Tumbuhan ini dapat mencapai tinggi 15–20 m dengan cara memanjat tanaman lainnya, walaupun ada beberapa spesies yang tidak memanjat. Pada ujung daun terdapat sulur yang dapat termodifikasi membentuk kantong, yaitu alat perangkap yang digunakan untuk memakan mangsanya (misalnya seranggapacet, anak kodok) yang masuk ke dalam.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Kantong_semar)


RAMAI-RAMAI NYEBUR KOLAM

Hari pertama sekolah tidak perlu tergesa-gesa memasukkan siswa baru ke dalam situasi formal kelas yang “kaku” dan “tertib”.  Hari itu siswa tidak harus dipaksa duduk manis sambil diberi pengarahan verbal bahwa mereka tidak boleh banyak bermain sebab sekarang sudah kelas satu, bukan siswa TK lagi, mereka harus rajin belajar dan penurut agar menjadi anak pandai dan seterusnya.
            Mengapa tidak dicoba memulai pembelajaran dengan beraktivitas di luar kelas? Ajak mereka beramai-ramai turun ke kolam yang telah diisi puluhan ikan. (Bila sekolah belum memiliki kolam, bisa dibuat kolam darurat dari bak platik atau dari cerukan tanah  yang dilapisi plastik). Pasti  anak-anak bakal menyambut bergembira diajak nyebur ke kolam. Bentuklah siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Tujuannya, untuk membiasakan  budaya antre, untuk melatih kerja sama, dan agar aktivitas mudah dikendalikan. Kemudian secara bergantian setiap kelompok diminta turun untuk menangkap ikan. Hasil tangkapannya digabung dalam sebuah kantung plastik milik kelompok.
Biasanya awalnya mereka ragu-ragu dan takut, tapi lama-kelamaan begitu melihat teman lainnya memulai perburuan, mereka tak peduli lagi. Mereka berlomba menangkap ikan-ikan yang gesit dengan semangat penuh. Bajunyapun basah kuyup (untuk itu, ada baiknya hari pertama anak mengenakan pakaian olahraga). Ikan yang mereka peroleh nantinya boleh dibawa pulang. Itulah suasana indah hari pertama sekolah. Walhasil anak yang basah-basah itu pulang dengan menenteng hasil tangkapannya sambil tertawa-tawa.
Mungkin mencuat pertanyaan: di mana letak pembelajarannya, jika anak Cuma diajak main-main begitu? Bila dicermati sebetulnya banyak learning point yang mereka dapati, seperti berlatih konsentrasi, kerja sama kelompok. Tapi satu butir yang terpenting, aktivitas ini mampu merobohkan sigma bahwa sekolah itu menakutkan. Esoknya dijamin anak tidak enggan bersekolah dengan aneka alasan klasik seperti tidak punya teman atau takut karena wajah gurunya yang mahal senyum.

Ditindaklanjuti
Kegiatan menangkap ikan ini tidak boleh berhenti begitu saja di hari pertama. Esoknya perlu ditindaklanjuti. Pada hari kedua guru dapat memancing pertanyaan menarik dan memasukkan materi pelajaran (misalnya matematika) tanpa terasa.
“Anak-anak, bagaimana kabar ikan kalian?”
Anak-anak itu saling berebut menjawab. Ada yang bilang dimasukkan kolam, ada yang dipelihara di toples dan lain-lain.
“Adi, coba berdiri sini, saya mau tanya, berapa ikan yang kamu dapat kemarin?”
“Dua”
“Nah, berapa punya kamu?” tanya guru kepada siswa lainnya.
“Tiga, Bu,” jawab Lina yang duduk di deret depan
“Kalau ikan Adi dicampur dengan ikan Lina, berapa jumlahnya?”
Begitulah guru memulai matematika dengan smooth,  tanpa harus dimulai dengan menuliskan simbol bilangan di papan tulis terlebih dahulu. Nah, siapa bilang  tidak terjadi proses pembelajaran? Siapa bila anak kehilangan jam belajar sehari kemarin? Justru dengan pola seperti itu sangat memungkinkan terjadi proses percepatan atau accelerated learning.
Andai ada siswa yang melapor bahwa ikannya mati, guru spontan dapat memanfaatkan untuk mengenakan konsep pengurangan. “Coba dengar, Ima kemarin dapat ikan tiga ekor. Kemudian ternyata mati dua. Jadi tinggal berapan ikan Ima?”
Pada hari itu tahu-tahu anak telah belajar  penjumlahan dan pengurangan sekaligus. Inilah salah satu aplikasi model pembelajaran, yang menggunakan benda konkret untuk menjelaskan konsep-konsep abstrak matematika maupun sains.

MENGUNJUNGI KANTOR POLISI

Mengenal peraturan seyogyanya dikenalkan semenjak dini. Dan bila aturan itu diterangkan oleh aparat kepolisian tentu akan menarik perhatian siswa dan mereka akan mengingat lebih dalam. Kelak saat dewasa diharapkan dia akan menjadi warga yang tertib hukum.
      Mengunjungi kantor polisi dapat diagendakan sebagai kegiatan outdoor yang tidak boleh ditinggalkan. Siswa akan memperoleh banyak pengetahuan di sana, mulai dari yang umum-umum seperti mengenal tugas dan peran polisi, struktur kepangkatan, atau bagaimana tata cara menjadi polisi. Juga yang khusus, seperti mengenai bahaya narkoba yang kian marak, atau mengenal tata tertib lalu lintas.     
      Bila kita mampu melobi dengan baik, bukan mustahil pihak kepolisian akan menyambut kehadiran kita dengan acara dan fasilitas yang khusus. Acara khusus misalnya peragaan boneka tertib lalu lintas yang dimainkan para polwan, atau memberi kesempatan beberapa siswa duduk di boncengan sadel motor gede polantas yang bersirine. (Polda Jatim pernah memberi kesempatan siswa TK dan SD merasakan meluncur dari ketinggian dengan tandem polisi).
           Kegiatan di kantor polisi hendaknya tidak sebatas berkumpul di ruang dan mendengar ceramah polisi. Siswa perlu diajak berkeliling mengamati kantor dan  peralatan mereka. Syukur boleh mencoba, misalnya, peralatan dalmas yang berupa perisai rotan, pentungan, dan rompi pengaman itu.       Yang perlu disiapkan sebelum outdoor, sekolah hendaknya membuat surat pemberitahuan kunjungan ke polisi yang dituju. Surat itu sebaiknya dilampiri deskripsi ringkas kegiatan yang akan dilakukan dan informasi yang dibutuhkan oleh siswa. Perlu juga diinformasikan jumlah siswa dan tingkat kelasnya sehingga polisi dapat menyesuaikan materi dan cara penyampaiannya kepada siswa. Akan lebih mengena jika guru dan polisi berdialog terlebih dahulu untuk menyamakan persepsi, memahai tujuan outdoor, termasuk membicarakan tentang apa fokus materi yang akan disampaikan kepada siswa.
Pada akhir acara sempatkan foto bersama dengan pak polisi kita. Ini tidak sekadar bernilai dokumentatif, tetapi juga untuk membangun cita siswa untuk berprofesi  menjadi aparat penegak hukum.
            Perlu disarankan kepada polisi yang menjadi narasumber untuk melengkapi diri dengan aneka peralatan saat presentasi. Sebab, berdasar pengalaman, bila hanya mengandalkan informasi lisan siswa segera bosan dan hilang perhatian. Keberadaan alat seperti rambu lalu lintas, tanda pangkat, senjata, borgol, foto-foto, hingga poster narkoba sungguh dapat memancing perhatian siswa.

HYDRA

Hydra  adalah genus dari hewan air tawar kecil. Hydra juga merupakan hewan pemangsa yang termasuk dalam filumcnidaria dan kelas hydrozoa. Hydra banyak ditemukan di air tawar yang bersuhu tropis dan tidak tercemar. Hydra juga termasuk hewan multiseluler yang memiliki tubuh berbentuk tabung. Panjang tubuhnya diperkirakan 10 milimeter. Hydra hanya dapat dilihat menggunakan mikroskop dan tidak bisa dilihat dengan kasat mata.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Hydra_(genus)



ANEMON LAUT

Banyak yang mengira anemon laut adalah sejenis tumbuhan atau bunga yang melekat didasar laut. Ternyata tidak, anemon adalah hewan invertebrate


HANTU BUKIT FLORA


Banyak objek yang kami kunjungi untuk kepentingan pembelajaran di luar kelas. Dalam acara Oneday Discovery kali ini, siswa kelas VI SD Maarif Jogosari pergi ke Bukit Flora di Nongkojajar Kab. Pasuruan, sebuah kawasan pegunungan yang tampaknya telah dirancang pengelolahnya untuk wisata studi. Sesuai namanya, di Bukit Flora  pengunjung  bakal belajar banyak tentang ilmu tumbuh-tumbuhan. Dan itu amat klop  dengan pelajaran siswa SD.
Terdapat  green house yang besar dan teduh menaungi tanaman yang tertata apik. Di bawah bimbingan pemandu berseragam coklat,  anak-anak asyik belajar mengenal berbagai media tanam mulai dari tanah, pasir, hingga parutan pakis. Siswa juga diajak memahami proses fotosintetis dan mengenal aneka jenis bunga nusantara. Beginilah seharusnya belajar. Konkret. Siswa langsung menemukan wujud asli tanaman insektivora yang selama ini cuma tercetak dalam buku teks atau terpampang  di layar televisi. Mereka mengamati  bunga kantung semar yang sanggup menangkap serangga lewat kantungnya. 
Tak hanya itu siswa juga menjadi lebih paham manfaat bunga sansivera atau lidah mertua.  “Lidah mertua ini mampu menghasilkan O2 dalam 24 jam. Dia dapat menetralisir asap rokok.  Oleh karena itu sansivera cocok ditanam di dalam ruangan, “ kata Kak Wahyu melalui megaphonenya. Anak-anak terpesona lalu sesekali mencatat. Agaknya inilah proses belajar yang efektif. Otak merekam informasi dengan antusias tinggi. Rasa ingin tahu anak yang tinggi mendapat  jawaban yang memadai dari pemandu ahli.
Selesai paparan dan tanya jawab,  siswa mendapat  lembar pertanyaan yang wajib diisi. Ini semacam  recek untuk mengetahui sejauh mana anak mampu menangkap informasi yang baru saja diterima. Sebagai motivasi, di akhir sesi, jawaban siswa yang benar dan terlengkap bakal mendapat hadiah piala dan cinderamata dari pengelola Bukit Flora.
Dari satu green house siswa diajak bergeser ke ruang beratap lengkung berikutnya. Mereka disambut bunga Krisan asal Belanda yang bermekaran.  Sementara di atas sana berderet pot gantung dengan berbagai jenis bunga. Itu anggrek bulan berbunga ungu. Tapi lihat, tanaman apa di ujung atas itu? Bentuk daunnya aneh:  putih berumbai, menjulur ke bawah menyerupai rambut  topeng raksasa Bali.
 “Itu namanya… bunga rambut hantu…!,”  jawab Kak Wahyu.
Anak-anak  langsung bergidik… hihihi…..lantas tertawa bersama!
Di Bukit Flora pengunjung tidak melulu belajar flora.  Tersedia aneka game dan ketangkasan. Saatnya berbaris bergaya seperti  timnas sepak bola, bersiap menendang bola ke gawang yang berbentuk lobang bundar. Ternyata sulit juga. Dari 96 siswa plus enam guru pendamping, cuma dua siswa yang berhasil mencetak gol. Uniknya, keduanya siswa cewek semua.
Ada lagi adu cepat merayap, lomba tangkap belut, dan tarik tambang.  Puncaknya, setiap anak bergiliran meluncur dari ketinggian, ber-flying fox.  Setelah itu acara bebas. Segera saja dimanfaatkan siswa untuk rame-rame menceburkan diri  ke kolam renang.
Hari sudah ashar,  saatnya kita pulang. Bila sudah begitu, selalu saja ada siswa yang  tergopoh maupun teledor. Lalu barangnya tercecer di mana-mana. Maka guru punya tugas tambahan sebagai  tim “penyapu ranjau.“  Mengumpulkan harta benda siswa mulai dari makanan, kaos kaki, slayer, hingga jilbab.  Di tempat siswa berkumpul, guru segera mengumumkan lukoto atau barang temuan  hari itu.
“Ini punya siapa?”  Pak Nashihin mengangkat sepatu perempuan.
“Saya,” sang Cinderela kecil mengangkat tangan lalu bergegas mengambilnya.
Guru “melelang” lagi benda-benda lainnya. Terakhir,  Pak Aunur mengangkat benda hijau basah.
“Lha…. ini milik siapa?”  Anak-anak  ramai terbahak-bahak  tapi tak ada satupun yang angkat tangan. Mungkin malu. Sebab benda yang dijewer itu ternyata segi tiga pengaman alias celana dalam.
 “Kolor ijo…kolor ijo….!” anak-anak ramai berkomentar. (*)

PRAKTIK MENYETEK DI DESA WILO

Pekan ini siswa kelas tiga sedang mempelajari masalah tumbuh-tumbuhan, termasuk berbagai teknik pengembangbiakan, di antaranya dengan cara mencangkok, teknik okulasi, hingga menempel. Kalau mau praktis, guru kelas tiga cukup menggambar batang ketela pohon yang dipangkas secara diagonal. Lalu menggambar sebatang lagi yang dipotong serupa. Dua gambar itu lalu digandengkan dan digambar seolah-olah dibalut tali. Sambil berceramah tangan guru menunjuk-nunjuk gambar di papan tulis. Bisa saja. Tetapi itu sudah tidak memadai lagi. Pelajaran yang hanya diceramahkan, pelajaran yang hanya dengan bantuan visual “seolah-olah” pohon seperti itu, tidak akan banyak nyantol di batok kepala anak. Kalau mau sedikit repot guru bisa juga memakai alat peraga (sekarang banyak gambar yang dijual di toko media pendidikan). Ini masih lumayan sebab siswa mendapat gambar visual yang lebih bagus, tidak sekadar gambar asal-asalan seperti yang digores di papan tulis. Sekolah Inovatif SD Maarif Jogosari Pandaan berupaya ingin lebih dari sekadar itu. Untuk memahami teknik mencangkok dan semacamnya, anak perlu diajak melihat praktik sesungguhnya di alam nyata. Jadi mereka akan memperoleh pengalaman secara konkret. Maka Sabtu pagi, dalam acara one day discovery, rombongan anak-anak kelas tiga naik angkot menuju Desa Wilo, Kec. Prigen, sekitar empat kilometer dari sekolah. Mereka menuju kebun pembibitan bunga. Ya, sebuah sasaran yang tepat. Sebab di sini semua yang digambarkan dan didiskripsikan di dalam buku IPA menemukan wujud riilnya. Anak-anak tampak gembira melihat aneka bunga warna-warni. Kebun yang tak seberapa luas tetapi cukup untuk memberi wawasan yang luas kepada anak-anak. Anak-anak beramai-ramai melihat langsung cara menyetek tanaman, menyambung, dan menempel. Bahkan mereka mencoba melakukannya sendiri. Sementara tukang bunga membantu sambil memberi penjelasan dengan ramah. Agaknya inilah kelebihan metode discovery. Target pembelajaran yang semula hanya mengenalkan anak kepada masalah pengembangbiakan tetumbuhan ternyata terlampaui. Semua jadi meluas. Lewat metode penjelajahan dan mencari sendiri, pengetahuan anak melebar ke mana-mana. Mereka tidak sekadar belajar menyetek, lebih jauh jadi tahu ternyata stek bisa dilakukan untuk pohon yang berlainan, sepanjang masih sejenis. Contoh konkretnya mereka menyaksikan bagaimana pohon jarak bisa digandeng dengan kembang yodium. Bunga bugenvile merah dipadu dengan bugenvile ungu maupun putih. Mereka menyaksikan bahwa menyambung pohon tidak bisa dibiarkan begitu saja tetapi batang bunga yang baru disambungkan harus dikerubungi seluruhnya dengan plastik. Baru setelah sambungan terbentuk kerudung itu dilepas.