Banyak
objek yang kami kunjungi untuk kepentingan pembelajaran di luar kelas. Dalam
acara Oneday Discovery kali ini,
siswa kelas VI SD Maarif Jogosari pergi ke Bukit Flora di Nongkojajar Kab. Pasuruan,
sebuah kawasan pegunungan yang tampaknya telah dirancang pengelolahnya untuk
wisata studi. Sesuai namanya, di Bukit Flora pengunjung
bakal belajar banyak tentang ilmu tumbuh-tumbuhan. Dan itu amat klop dengan pelajaran siswa SD.
Terdapat green
house yang besar dan teduh menaungi tanaman yang tertata apik. Di bawah
bimbingan pemandu berseragam coklat, anak-anak asyik belajar mengenal berbagai media
tanam mulai dari tanah, pasir, hingga parutan pakis. Siswa juga diajak memahami
proses fotosintetis dan mengenal aneka jenis bunga nusantara. Beginilah
seharusnya belajar. Konkret. Siswa langsung menemukan wujud asli tanaman insektivora yang selama ini cuma tercetak dalam buku teks atau terpampang di layar televisi. Mereka mengamati bunga kantung semar yang sanggup menangkap
serangga lewat kantungnya.
Tak hanya itu siswa juga menjadi lebih
paham manfaat bunga sansivera atau lidah mertua. “Lidah mertua ini mampu menghasilkan O2 dalam
24 jam. Dia dapat menetralisir asap rokok. Oleh karena itu sansivera cocok ditanam di
dalam ruangan, “ kata Kak Wahyu melalui megaphonenya.
Anak-anak terpesona lalu sesekali mencatat. Agaknya inilah proses belajar yang efektif.
Otak merekam informasi dengan antusias tinggi. Rasa ingin tahu anak yang tinggi
mendapat jawaban yang memadai dari
pemandu ahli.
Selesai paparan dan tanya jawab, siswa mendapat
lembar pertanyaan yang wajib diisi. Ini semacam recek untuk mengetahui sejauh mana anak mampu
menangkap informasi yang baru saja diterima. Sebagai motivasi, di akhir sesi,
jawaban siswa yang benar dan terlengkap bakal mendapat hadiah piala dan cinderamata
dari pengelola Bukit Flora.
Dari satu green house siswa diajak bergeser ke ruang beratap lengkung berikutnya.
Mereka disambut bunga Krisan asal Belanda yang bermekaran. Sementara di atas sana berderet pot gantung
dengan berbagai jenis bunga. Itu anggrek bulan berbunga ungu. Tapi lihat,
tanaman apa di ujung atas itu? Bentuk daunnya aneh: putih berumbai, menjulur ke bawah menyerupai
rambut topeng raksasa Bali.
“Itu namanya… bunga rambut hantu…!,” jawab Kak Wahyu.
Anak-anak langsung bergidik… hihihi…..lantas tertawa bersama!
Di Bukit Flora pengunjung tidak melulu belajar flora. Tersedia aneka game dan ketangkasan. Saatnya berbaris bergaya seperti timnas sepak bola, bersiap menendang bola ke gawang
yang berbentuk lobang bundar. Ternyata sulit juga. Dari 96 siswa plus enam guru
pendamping, cuma dua siswa yang berhasil mencetak gol. Uniknya, keduanya siswa cewek
semua.
Ada lagi adu cepat merayap, lomba
tangkap belut, dan tarik tambang.
Puncaknya, setiap anak bergiliran meluncur dari ketinggian, ber-flying fox. Setelah itu acara
bebas. Segera saja dimanfaatkan siswa untuk rame-rame menceburkan diri ke kolam renang.
Hari sudah ashar, saatnya kita pulang. Bila sudah begitu,
selalu saja ada siswa yang tergopoh maupun
teledor. Lalu barangnya tercecer di mana-mana. Maka guru punya tugas tambahan
sebagai tim “penyapu ranjau.“ Mengumpulkan harta benda siswa mulai dari makanan,
kaos kaki, slayer, hingga jilbab. Di
tempat siswa berkumpul, guru segera mengumumkan lukoto atau barang temuan hari itu.
“Ini punya siapa?” Pak Nashihin mengangkat sepatu perempuan.
“Saya,” sang Cinderela kecil mengangkat
tangan lalu bergegas mengambilnya.
Guru “melelang” lagi benda-benda
lainnya. Terakhir, Pak Aunur mengangkat benda hijau basah.
“Lha…. ini milik siapa?” Anak-anak ramai terbahak-bahak tapi tak ada satupun yang angkat tangan.
Mungkin malu. Sebab benda yang dijewer itu ternyata segi tiga pengaman alias
celana dalam.
“Kolor ijo…kolor ijo….!” anak-anak ramai
berkomentar. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar