MENU BAR

Jumat, 11 November 2016

HANTU BUKIT FLORA


Banyak objek yang kami kunjungi untuk kepentingan pembelajaran di luar kelas. Dalam acara Oneday Discovery kali ini, siswa kelas VI SD Maarif Jogosari pergi ke Bukit Flora di Nongkojajar Kab. Pasuruan, sebuah kawasan pegunungan yang tampaknya telah dirancang pengelolahnya untuk wisata studi. Sesuai namanya, di Bukit Flora  pengunjung  bakal belajar banyak tentang ilmu tumbuh-tumbuhan. Dan itu amat klop  dengan pelajaran siswa SD.
Terdapat  green house yang besar dan teduh menaungi tanaman yang tertata apik. Di bawah bimbingan pemandu berseragam coklat,  anak-anak asyik belajar mengenal berbagai media tanam mulai dari tanah, pasir, hingga parutan pakis. Siswa juga diajak memahami proses fotosintetis dan mengenal aneka jenis bunga nusantara. Beginilah seharusnya belajar. Konkret. Siswa langsung menemukan wujud asli tanaman insektivora yang selama ini cuma tercetak dalam buku teks atau terpampang  di layar televisi. Mereka mengamati  bunga kantung semar yang sanggup menangkap serangga lewat kantungnya. 
Tak hanya itu siswa juga menjadi lebih paham manfaat bunga sansivera atau lidah mertua.  “Lidah mertua ini mampu menghasilkan O2 dalam 24 jam. Dia dapat menetralisir asap rokok.  Oleh karena itu sansivera cocok ditanam di dalam ruangan, “ kata Kak Wahyu melalui megaphonenya. Anak-anak terpesona lalu sesekali mencatat. Agaknya inilah proses belajar yang efektif. Otak merekam informasi dengan antusias tinggi. Rasa ingin tahu anak yang tinggi mendapat  jawaban yang memadai dari pemandu ahli.
Selesai paparan dan tanya jawab,  siswa mendapat  lembar pertanyaan yang wajib diisi. Ini semacam  recek untuk mengetahui sejauh mana anak mampu menangkap informasi yang baru saja diterima. Sebagai motivasi, di akhir sesi, jawaban siswa yang benar dan terlengkap bakal mendapat hadiah piala dan cinderamata dari pengelola Bukit Flora.
Dari satu green house siswa diajak bergeser ke ruang beratap lengkung berikutnya. Mereka disambut bunga Krisan asal Belanda yang bermekaran.  Sementara di atas sana berderet pot gantung dengan berbagai jenis bunga. Itu anggrek bulan berbunga ungu. Tapi lihat, tanaman apa di ujung atas itu? Bentuk daunnya aneh:  putih berumbai, menjulur ke bawah menyerupai rambut  topeng raksasa Bali.
 “Itu namanya… bunga rambut hantu…!,”  jawab Kak Wahyu.
Anak-anak  langsung bergidik… hihihi…..lantas tertawa bersama!
Di Bukit Flora pengunjung tidak melulu belajar flora.  Tersedia aneka game dan ketangkasan. Saatnya berbaris bergaya seperti  timnas sepak bola, bersiap menendang bola ke gawang yang berbentuk lobang bundar. Ternyata sulit juga. Dari 96 siswa plus enam guru pendamping, cuma dua siswa yang berhasil mencetak gol. Uniknya, keduanya siswa cewek semua.
Ada lagi adu cepat merayap, lomba tangkap belut, dan tarik tambang.  Puncaknya, setiap anak bergiliran meluncur dari ketinggian, ber-flying fox.  Setelah itu acara bebas. Segera saja dimanfaatkan siswa untuk rame-rame menceburkan diri  ke kolam renang.
Hari sudah ashar,  saatnya kita pulang. Bila sudah begitu, selalu saja ada siswa yang  tergopoh maupun teledor. Lalu barangnya tercecer di mana-mana. Maka guru punya tugas tambahan sebagai  tim “penyapu ranjau.“  Mengumpulkan harta benda siswa mulai dari makanan, kaos kaki, slayer, hingga jilbab.  Di tempat siswa berkumpul, guru segera mengumumkan lukoto atau barang temuan  hari itu.
“Ini punya siapa?”  Pak Nashihin mengangkat sepatu perempuan.
“Saya,” sang Cinderela kecil mengangkat tangan lalu bergegas mengambilnya.
Guru “melelang” lagi benda-benda lainnya. Terakhir,  Pak Aunur mengangkat benda hijau basah.
“Lha…. ini milik siapa?”  Anak-anak  ramai terbahak-bahak  tapi tak ada satupun yang angkat tangan. Mungkin malu. Sebab benda yang dijewer itu ternyata segi tiga pengaman alias celana dalam.
 “Kolor ijo…kolor ijo….!” anak-anak ramai berkomentar. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar