Hari pertama sekolah tidak perlu tergesa-gesa memasukkan siswa baru
ke dalam situasi formal kelas yang “kaku” dan “tertib”. Hari itu siswa tidak harus dipaksa duduk
manis sambil diberi pengarahan verbal bahwa mereka tidak boleh banyak bermain
sebab sekarang sudah kelas satu, bukan siswa TK lagi, mereka harus rajin
belajar dan penurut agar menjadi anak pandai dan seterusnya.
Mengapa tidak dicoba memulai
pembelajaran dengan beraktivitas di luar kelas? Ajak mereka beramai-ramai turun
ke kolam yang telah diisi puluhan ikan. (Bila sekolah belum memiliki kolam,
bisa dibuat kolam darurat dari bak platik atau dari cerukan tanah yang dilapisi plastik). Pasti anak-anak bakal menyambut bergembira diajak
nyebur ke kolam. Bentuklah siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Tujuannya,
untuk membiasakan budaya antre, untuk
melatih kerja sama, dan agar aktivitas mudah dikendalikan. Kemudian secara
bergantian setiap kelompok diminta turun untuk menangkap ikan. Hasil
tangkapannya digabung dalam sebuah kantung plastik milik kelompok.
Biasanya awalnya mereka ragu-ragu dan takut, tapi lama-kelamaan
begitu melihat teman lainnya memulai perburuan, mereka tak peduli lagi. Mereka
berlomba menangkap ikan-ikan yang gesit dengan semangat penuh. Bajunyapun basah
kuyup (untuk itu, ada baiknya hari pertama anak mengenakan pakaian olahraga).
Ikan yang mereka peroleh nantinya boleh dibawa pulang. Itulah suasana indah
hari pertama sekolah. Walhasil anak yang basah-basah itu pulang dengan
menenteng hasil tangkapannya sambil tertawa-tawa.
Mungkin mencuat pertanyaan: di mana letak pembelajarannya, jika anak
Cuma diajak main-main begitu? Bila dicermati sebetulnya banyak learning point yang mereka dapati,
seperti berlatih konsentrasi, kerja sama kelompok. Tapi satu butir yang
terpenting, aktivitas ini mampu merobohkan sigma bahwa sekolah itu menakutkan.
Esoknya dijamin anak tidak enggan bersekolah dengan aneka alasan klasik seperti
tidak punya teman atau takut karena wajah gurunya yang mahal senyum.
Ditindaklanjuti
Kegiatan menangkap ikan ini tidak boleh berhenti begitu saja di hari
pertama. Esoknya perlu ditindaklanjuti. Pada hari kedua guru dapat memancing
pertanyaan menarik dan memasukkan materi pelajaran (misalnya matematika) tanpa
terasa.
“Anak-anak, bagaimana kabar ikan kalian?”
Anak-anak itu saling berebut menjawab. Ada yang bilang dimasukkan kolam, ada yang
dipelihara di toples dan lain-lain.
“Adi, coba berdiri sini, saya mau tanya, berapa ikan yang kamu dapat
kemarin?”
“Dua”
“Nah, berapa punya kamu?” tanya guru kepada siswa lainnya.
“Tiga, Bu,” jawab Lina yang duduk di deret depan
“Kalau ikan Adi dicampur dengan ikan Lina, berapa jumlahnya?”
Begitulah guru memulai matematika dengan smooth, tanpa harus dimulai
dengan menuliskan simbol bilangan di papan tulis terlebih dahulu. Nah, siapa
bilang tidak terjadi proses
pembelajaran? Siapa bila anak kehilangan jam belajar sehari kemarin? Justru
dengan pola seperti itu sangat memungkinkan terjadi proses percepatan atau accelerated learning.
Andai ada siswa yang melapor bahwa ikannya mati, guru spontan dapat
memanfaatkan untuk mengenakan konsep pengurangan. “Coba dengar, Ima kemarin
dapat ikan tiga ekor. Kemudian ternyata mati dua. Jadi tinggal berapan ikan
Ima?”
Pada hari itu tahu-tahu
anak telah belajar penjumlahan dan pengurangan
sekaligus. Inilah salah satu aplikasi model pembelajaran, yang menggunakan
benda konkret untuk menjelaskan konsep-konsep abstrak matematika maupun sains.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar