MENU BAR

Jumat, 11 November 2016

RAMAI-RAMAI NYEBUR KOLAM

Hari pertama sekolah tidak perlu tergesa-gesa memasukkan siswa baru ke dalam situasi formal kelas yang “kaku” dan “tertib”.  Hari itu siswa tidak harus dipaksa duduk manis sambil diberi pengarahan verbal bahwa mereka tidak boleh banyak bermain sebab sekarang sudah kelas satu, bukan siswa TK lagi, mereka harus rajin belajar dan penurut agar menjadi anak pandai dan seterusnya.
            Mengapa tidak dicoba memulai pembelajaran dengan beraktivitas di luar kelas? Ajak mereka beramai-ramai turun ke kolam yang telah diisi puluhan ikan. (Bila sekolah belum memiliki kolam, bisa dibuat kolam darurat dari bak platik atau dari cerukan tanah  yang dilapisi plastik). Pasti  anak-anak bakal menyambut bergembira diajak nyebur ke kolam. Bentuklah siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Tujuannya, untuk membiasakan  budaya antre, untuk melatih kerja sama, dan agar aktivitas mudah dikendalikan. Kemudian secara bergantian setiap kelompok diminta turun untuk menangkap ikan. Hasil tangkapannya digabung dalam sebuah kantung plastik milik kelompok.
Biasanya awalnya mereka ragu-ragu dan takut, tapi lama-kelamaan begitu melihat teman lainnya memulai perburuan, mereka tak peduli lagi. Mereka berlomba menangkap ikan-ikan yang gesit dengan semangat penuh. Bajunyapun basah kuyup (untuk itu, ada baiknya hari pertama anak mengenakan pakaian olahraga). Ikan yang mereka peroleh nantinya boleh dibawa pulang. Itulah suasana indah hari pertama sekolah. Walhasil anak yang basah-basah itu pulang dengan menenteng hasil tangkapannya sambil tertawa-tawa.
Mungkin mencuat pertanyaan: di mana letak pembelajarannya, jika anak Cuma diajak main-main begitu? Bila dicermati sebetulnya banyak learning point yang mereka dapati, seperti berlatih konsentrasi, kerja sama kelompok. Tapi satu butir yang terpenting, aktivitas ini mampu merobohkan sigma bahwa sekolah itu menakutkan. Esoknya dijamin anak tidak enggan bersekolah dengan aneka alasan klasik seperti tidak punya teman atau takut karena wajah gurunya yang mahal senyum.

Ditindaklanjuti
Kegiatan menangkap ikan ini tidak boleh berhenti begitu saja di hari pertama. Esoknya perlu ditindaklanjuti. Pada hari kedua guru dapat memancing pertanyaan menarik dan memasukkan materi pelajaran (misalnya matematika) tanpa terasa.
“Anak-anak, bagaimana kabar ikan kalian?”
Anak-anak itu saling berebut menjawab. Ada yang bilang dimasukkan kolam, ada yang dipelihara di toples dan lain-lain.
“Adi, coba berdiri sini, saya mau tanya, berapa ikan yang kamu dapat kemarin?”
“Dua”
“Nah, berapa punya kamu?” tanya guru kepada siswa lainnya.
“Tiga, Bu,” jawab Lina yang duduk di deret depan
“Kalau ikan Adi dicampur dengan ikan Lina, berapa jumlahnya?”
Begitulah guru memulai matematika dengan smooth,  tanpa harus dimulai dengan menuliskan simbol bilangan di papan tulis terlebih dahulu. Nah, siapa bilang  tidak terjadi proses pembelajaran? Siapa bila anak kehilangan jam belajar sehari kemarin? Justru dengan pola seperti itu sangat memungkinkan terjadi proses percepatan atau accelerated learning.
Andai ada siswa yang melapor bahwa ikannya mati, guru spontan dapat memanfaatkan untuk mengenakan konsep pengurangan. “Coba dengar, Ima kemarin dapat ikan tiga ekor. Kemudian ternyata mati dua. Jadi tinggal berapan ikan Ima?”
Pada hari itu tahu-tahu anak telah belajar  penjumlahan dan pengurangan sekaligus. Inilah salah satu aplikasi model pembelajaran, yang menggunakan benda konkret untuk menjelaskan konsep-konsep abstrak matematika maupun sains.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar