MENU BAR

Jumat, 11 November 2016

PRAKTIK MENYETEK DI DESA WILO

Pekan ini siswa kelas tiga sedang mempelajari masalah tumbuh-tumbuhan, termasuk berbagai teknik pengembangbiakan, di antaranya dengan cara mencangkok, teknik okulasi, hingga menempel. Kalau mau praktis, guru kelas tiga cukup menggambar batang ketela pohon yang dipangkas secara diagonal. Lalu menggambar sebatang lagi yang dipotong serupa. Dua gambar itu lalu digandengkan dan digambar seolah-olah dibalut tali. Sambil berceramah tangan guru menunjuk-nunjuk gambar di papan tulis. Bisa saja. Tetapi itu sudah tidak memadai lagi. Pelajaran yang hanya diceramahkan, pelajaran yang hanya dengan bantuan visual “seolah-olah” pohon seperti itu, tidak akan banyak nyantol di batok kepala anak. Kalau mau sedikit repot guru bisa juga memakai alat peraga (sekarang banyak gambar yang dijual di toko media pendidikan). Ini masih lumayan sebab siswa mendapat gambar visual yang lebih bagus, tidak sekadar gambar asal-asalan seperti yang digores di papan tulis. Sekolah Inovatif SD Maarif Jogosari Pandaan berupaya ingin lebih dari sekadar itu. Untuk memahami teknik mencangkok dan semacamnya, anak perlu diajak melihat praktik sesungguhnya di alam nyata. Jadi mereka akan memperoleh pengalaman secara konkret. Maka Sabtu pagi, dalam acara one day discovery, rombongan anak-anak kelas tiga naik angkot menuju Desa Wilo, Kec. Prigen, sekitar empat kilometer dari sekolah. Mereka menuju kebun pembibitan bunga. Ya, sebuah sasaran yang tepat. Sebab di sini semua yang digambarkan dan didiskripsikan di dalam buku IPA menemukan wujud riilnya. Anak-anak tampak gembira melihat aneka bunga warna-warni. Kebun yang tak seberapa luas tetapi cukup untuk memberi wawasan yang luas kepada anak-anak. Anak-anak beramai-ramai melihat langsung cara menyetek tanaman, menyambung, dan menempel. Bahkan mereka mencoba melakukannya sendiri. Sementara tukang bunga membantu sambil memberi penjelasan dengan ramah. Agaknya inilah kelebihan metode discovery. Target pembelajaran yang semula hanya mengenalkan anak kepada masalah pengembangbiakan tetumbuhan ternyata terlampaui. Semua jadi meluas. Lewat metode penjelajahan dan mencari sendiri, pengetahuan anak melebar ke mana-mana. Mereka tidak sekadar belajar menyetek, lebih jauh jadi tahu ternyata stek bisa dilakukan untuk pohon yang berlainan, sepanjang masih sejenis. Contoh konkretnya mereka menyaksikan bagaimana pohon jarak bisa digandeng dengan kembang yodium. Bunga bugenvile merah dipadu dengan bugenvile ungu maupun putih. Mereka menyaksikan bahwa menyambung pohon tidak bisa dibiarkan begitu saja tetapi batang bunga yang baru disambungkan harus dikerubungi seluruhnya dengan plastik. Baru setelah sambungan terbentuk kerudung itu dilepas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar